LAPORAN
PRAKTIKUM MATAPELAJARAN PENGANTAR MANAJEMEN PASTURA
Tanggal : 24
Desember 2014
PENGARUH PUPUK,
JENIS TANAH, INTENSITAS CAHAYA DAN KETERSEDIAAN AIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
PRODUKTIVITAS TANAMAN
Nama : Hendrikus Helwin
NIM
: D24130102
Group/kelompok
: Rabu siang/ 1

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Dalam peternakan
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas
produksi,salah satunya adalah pakan yang diberikan.Pakan hijauan merupakan
pakan yang memiliki peran penting dalam proses produksi khususnya bagi ternak
ruminansia,yaitu sebagai sumber energi dan protein.Secara umum,pakan hijauan
terbagi menjadi dua,yaitu rumput dan leguminosa(Lubis, 1963).Pakan hijauan
dapat diperoleh dengan cara mengambil langsung dari alam atau dengan cara budidaya.Dalam budidaya
hijauan pakan, terdapat beberapa faktor abiotik dan biotik.Faktor abiotik
antara lain: tekstur tanah,kesuburan tanah,ketersediaan air dan intensitas
cahaya. Tekstur tanah adalah perbandingan relative antara fraksi pasir, debu,
liat yang terkandung dalam suatu massa tanah(Soewardi dkk,1998). Tekstur tanah
sangat berpangaruh terhadap pertumbuhan tanaman,yaitu berkaitan dengan
kemampuan daya ikat tanah terhadap air,bahan organik,dan bahan anorganik.Selain
itu,tekstur tanah juga berperan dalam perkembangan akar tanaman serta proses
penyaluran udara dalam tanah(aerasi).
Kesuburan
Tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menyediakan unsur hara secara seimbang
untuk menghasilkan produk tanaman yang diinginkan, pada lingkungan tempat tanah
itu berada.Tanah memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung sejumlah
faktor pembentuk tanah di lokasi tersebut, yaitu: Bahan induk, Iklim, Relief,
Organisme, atau Waktu. Petunjuk yang berguna untuk mengestimasi kesuburan tanah
adalah struktur, tekstur, dan keasaman tanah (Nyakpa et al, 1988). Selain itu,
kesuburan tanah juga dipengaruhi oleh adanya penambahan pupuk.Pupuk yang umum
ditambahkan pada tanah adalah pupuk organik dan pupuk non-organik.
Ketersediaan
air merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan tanaman,hal ini
bekaitan dengan pemenuhan kebutuhan air tanaman untuk menunjang pertumbuhan dan
perkembangannya. Air juga diperlukan sebagai hara untuk pembentukan senyawa
baru (Harjadi, 1979).Setiap tanaman memiliki kebutuhan air yang
berbeda-beda.Apabila ketersediaan air tidak seimbang,baik itu kekurangan maupun
kelebihan maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman tersebut akan terganggu
yang berakibat pada tingkat produksvfitas yang dihasilkan.
Intensitas
cahaya (penyiranan) adalah jumlah energi yang diterima oleh bumi pada waktu dan
areal tertentu (Wetzel and Licken, 1979 dalam Kusharsoyo, 2001 ).Intensitas cahaya
yang diterima oleh tanaman mempunyai pengaruh yang besar terhadap berbagai
proses fisiologis tumbuhan,khususnya proses fotosintesis.Setiap tanaman
memiliki perbedaan kebutuhan cahaya.Ada tanaman yang membutuhkan cahaya banyak
sehingga pertumbuhannya cepat dan ada pula tananman yang membutuhkan cahaya
sedikit sehingga pertumbuhannya lambat. Dari uraian diatas,maka praktikum perlu
dilakukan untuk mengetahui pengaruh beberapa faktor abiotik terhadap
pertumbuhan dan produktivitas hijauan pakan.
2.
Tujuan
a.
Tekstur
tanah
Mengetahui
pengaruh perbedaan tekstur tanah terhadap pertumbuhan dan produktivitas hijauan
pakan.
b.
Kesuburan
tanah
Mengetahui
pengaruh perbedaan kesuburan tanah terhadap pertumbuhan dan produktivitas
hijauan pakan.
c.
Kersediaan
air
Mengetahui
pengaruh perbedaan kersediaan air terhadap pertumbuhan dan produktivitas
hijauan pakan.
d.
Intensitas
cahaya
Mengetahui
pengaruh perbedaan intensitas cahaya terhadap pertumbuhan dan produktivitas
hijauan pakan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Rumput
Gajah (Pennisetum purpureum)
Rumput gajah
merupakan salah satujenis hijauan pakan ternak yang berkualitas tinggi dan
disukai oleh ternak. Rumput ini bersal dari afrika daerah tropik, perenial, dan
dapat tumbuh tinggi hingga 3-4,5 m dengan nama latin pennisetum purpureum. Tumbuh berbentuk rumpun dengan lebar rumpun
hingga satu meter. Pelepah daun gundul hingga berbulu pendek, helai daun
bergaris dengan dasar yang lebar, ujungnya runcing. Panjang daun 16-90 cm dan
lebar daun 8-35 mm, berbatang keras dan tebal serta berbunga seperti es lilin.
Rumput ini tumbuh merumpun dengan perakaran serabut, dan terus menghasilkan
anakan apabila dipangkas secara teratur. Padalahan tumpang sari, rumput gajah
dapat ditanam pada guludan-guludan sebagai pencegah longsor akibat erosi.
Selain itu, rumput ini juga baik sebagai rumput potongan.
Rumput gajah
dapat hidup diberbagai tempat memperbanyak diri melalui biji, namun sebagai
produksi tanam terlalu sulit. Rumput gajah lebih mudah ditanam dengan stek
batang dari stolon. Bahan stek berasal dari batang yang sehat (baik) dan tua,
dengan panjang stek 20-25 cm (2-3 ruas atau minimal 2 node) dengan jarak tanam
bervariasi 60 x 75 cm, 60 x 100 cm, 50 x 100cm, 75 x 100 cm. Hal tersebut juga
sangat ditentukan oleh kesuburan tanah. Pada tanah yang subur lebih baik jarak
tanam diperlebar, sebab pada umur beberapa bulan saja tanaman akan banyak
anakan dan cepat menutup tanah.
Rumput
pennisetum purpureum dapat ditanam bersama dengan jenis leguminosa seperti
centrocema pubescens. Leguminosa bisa menambahkan nitrogen kedalam tanah,
karena adanya bakteri dalam bintil-bintil akar (rizobium). Sedangkan rumput
sendiri membutuhkan nitrogen dari dalam tanah dengan jalan menghisap nitrat
atau amonia yang larut dalam air.
2.
Rumput
setaria (setaria splendida)
Rumput Setaria
sering disebut setaria Lampung atau Timothy Emas Lampung. Rumput ini berasal
dari kawasan Afrika tropis, kemudian berkembang di Kenya dan Senegal. Rumput
setaria tumbuh tegak dan berumpun lebat, tingginya dapat mencapai 2 m, berdaun
halus dan lebar berwarna hijau gelap, berbatang lunak dengan warna merah
keunguan, pangkal batangnya pipih dan pelepah daun pada pangkal batang tersusun
seperti kipas. Setaria splendida merupakan jenis tanaman yang responsif
terhadap pupuk urea. Rumput ini cocok ditanam di daerah yang mempunyai
ketinggian 1200 m dpl. Dengan curah hujan tahunan 750 mm atau lebih, rumput ini
dapat tumbuh pada berbagai janis tanah dan tahan terhadap genangan. Pembiakan
rumput ini dapat dilakukan dengan pols pada jarak tanam 60 x 60 cm. Produksi
rumput ini dapat mencapai 100 ton ruput segar per-hektar per-tahun (Rahmat
Rukmana).
3.
Rumput
Koronivia (brachiaria humidicola)
Rumput ini
berasal dari Afrika Selatan dan kemudian menyebar ke daerah Fiji dan Papua
Nugini. Rumput ini merupakan tanaman tahunan yang berkembang dengan stolon yang
begitu cepat sehingga bila ditanam di lapang akan membentuk hamparan dan
mencapai tinggi 50 m. Daunnya tidak berbulu dan umumnya menggulung untuk menhan
penguapan air. Helai daunnya gepeng dengan panjang 12-25 cm dan lebarnya kira-kira
5-16 mm. Pola adaptasinya adalah tahan terhadap kekeringan dan cukup tahan
terhadap genangan akan tetapi tidak setahan Brachiaria
mutica. Rumput ini tahan terhadap penggembalaan berat dan mempunyai
ketahanan yang tinggi terhadap invasi gulma tetapi kurang cocok bila dilakukan
tanaman campuran dengan leguminosa karena cepat sekali menutup tanah sehingga
akan menekan pertumbuhan leguminosa. Tanaman ini tahan terhadap tanah yang
mengandung aluminium tinggi dan sangat responsive terhadap pemupukan nitrogen
yang tinggi.Rumput ini dapat dikembangkan dengan stolon yang begitu cepat
tumbuh maupun dengan biji.
4.
Jagung
(zea mays L)
Jagung (zea mays L) merupakan salah satu tanaman
pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Jagung berasal dari
Meksiko, Andenan, dan Asia. Jagung adalah sumber karbohidrat utama di Amerika
Tengah dan selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika
Serikat. Penduduk di beberapa daerah indonesia (Madura dan Nusa Tenggara) juga
menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat,
jagung juga ditanam sebagai pakan ternak, diambil minyak dari bijinya, dibuat
tepung jagung. Jagung merupakan tanaman musiman (annual). Satu siklus hidupnya hanya
mencapai 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan pertumbuhan vegetatif
dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. Tinggi tanaman jagung sangat
bervariasi. Meskipun tanaman jagung yang umumnya berketinggian 1-3 m, ada
varietas yang dapat mencapai ketinggian 6 m.
5.
Tanah
pasir
Tanah pasir
merupakan tanah yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang
memiliki butir kasar dan berkerikil. Pasir biasanya berbentuk gumpal membulat,
gumpal menyudut atau kubik. Tanah yang didominasi fraksi pasir dapat bersifat
kasar, pasiran atau ringan mudah diolah karena longgar dan gembur (
Hadiprawiro, 1998). Tanah pasir sangat miskin akan unsur hara yang dibutuhkan
oleh tanaman. Tanah pasir memiliki ukuran diameter partikel antara 2,00-0,02
mm. Ukuran partikel yang cukup besar ini menyebabkan tanah pasir bertekstur
kasar yang dicirikan adanya ruang pori besar diantara butir-butirnya. Kondisi
ini menyebabkan tanah menjadi berstruktur lepas dan gembur. Berdasarkan
ciri-ciri tanah pasir tersebut dapat dijelaskan bahwa tanah pasir memiliki
kemampuan mengikat air yang sangat rendah. Tanah pasir sangat tidak cocok
digunakan sebagai media tanam disebabkan tanah ini memiliki partikel besar
kurang dapat menahan air.
6.
Tanah
Remah
Tanah yang
berstruktur remah merupakan tanah yang distribusi zarah pasir, liat dan debu
yang relatif seimbang. Keseimbangan ini sangat berpengaruh pada pencukupan
kebutuhan tanaman akan air dan udara bagi kelangsungan pertumbuhannya yang
baik. Sedangkan bahan padatnya dapat menjadi pegangan akar sehingga
pertumbuhannya kuat dan resistensi terhadap berbagai pengaruh yang akan
merobohkannya (Kartasapoetra, 1989).
7.
Tanah
Liat
Tanah liat
merupakan tanah yang tergolongkan koloid dengan diameter kurang dari 0,002 mm.
Koloid tanahlah yang menahan air dan unsur hara yang kemudian akan diserahkan
kepada tanaman. Tanah liat memegang terlalu banyak air sehingga udara tanahnya
tidak memiliki ruang pori lagi dan akibatnya tanaman akan mengalami defisiensi
udara (Indranada,1989 dalam Kusharsoyo, 2001).
Tanah
liat adalah tanah yang berbutir halus yang bersifat seperti lempung yang
memiliki kapasitas, tidak memperlihatkan sifat dilatasi dan tidak mengandung
sejumlah butir kasar yang berarti mekanika tanah (Kartasapoetra, 1989). Tanah lempung
berbentuk lempeng berkenaan daya
stukturnya yang berlapis-lapis-lapis kecuali mengandung oksida dan hidroksida
besi. Lempung berwarna kelabu, putih, dan merah jika mterselaputi oleh besi.
Tanah berstuktur halus sering bersifat berat diolah karena sangat liat dan
lekat sewaktu basah dan keras sewaktu kering. Tanah yang dirajai fraksi lempeng
juga disebut berstuktur berat.
10.
Intensitas Cahaya
Intensitas
cahaya (penyiranan) adalah jumlah energi yang diterima oleh bumi pada waktu dan
areal tertentu (Wetzel and Licken, 1979 dalam Kusharsoyo, 2001 ). Intensitas
cahaya yang tinggi mempengaruhi kandungan air daun dan daun akan mengalami
defisit air yang akan diikuti oleh penutupan stomata sehingga akan mengurangi
laju fotosintesis (Harjadi, 1979). Intensitas cahaya tinggi juga meningkatkan
ketebalan batang dengan pertumbuhan yang baik dari xylem dan menyebabkan
jaringan dan internode pendek, serta akan mempengaruhi perkembangan dan
perluasan daun yang baik bila dalam keadaan yang sesuai (Daryanto,1973 dalam
Kusharsoyo, 2001).
Cahaya
merupakan bagian spectrum radiasi
matahari dan merupakan komponen lingkungan fisik yang sangat penting
bagi seluruh makhluk hidup khususnya tanaman, yang secara langsung atau tidak
langsung mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Jumin, 1992). Pertumbuhan
tanaman tergantung pada intensitas, kualitas, lamanya (perioditas) dan arah
cahaya (Setiadi, 1986). Energi cahaya sangat diperlukan dalam kegiatan
fotosintesis dan sejumlah pengikatan N melalui reaksi kimia. Panjang gelombang
yang paling bermanfaat bagi tanaman adalah 400-700 nm. Laju fotosintesa
diperlambat oleh intensitas cahaya yang melebihi atau di bawah kisaran normal
bagi kebutuhan normal karena intensitas cahaya matahari adalah peubah yang
kritis pada proses fotosintesa (Monteith, 1977 dalam Kusharsoyo 2001).
11.
Pupuk organik
Pupuk
Organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan
organik yang berasal dari tanaman atau hewan yang telah melalui proses
rekayasa, dapat dalam bentuk padat atau cair. Sumber bahan organik dapat berupa
kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol
jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang
menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota (sampah). Fungsi dari pupuk
organik lebih dominan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
12.
Pupuk anorganik
Pupuk
anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh dengan meramu bahan-bahan kimia
anorganik berkadarhara tinggi. Pupuk anorganik atau pupuk buatan dapat
dibedakan menjadi pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya
mengandung satu unsur hara dominan yang diperlukan oleh tanaman misalnya urea
yang mengandung N, TSP atau SP 36 mengandung P, dan KCl atau ZK dengan unsur K
yang dominan. Pupuk majemuk adalah pupuk
yang mengandung lebih dari satu unsur hara misalnya N + P, P + K, N + K, N + P
+ K dan sebagainya. Agar praktis, petani biasanya memakai pupuk mejemuk.
Umumnya di pasaran beredar pupuk dengan kandungan utama Nitrogen, fosfor, dan
kalium dengan berbagai perbandingan. Besar kecilnya perbandingan itu
dicantumkan di label kemasan. Tulisan 20;10;10 artinya kandungan nitrogen
paling tinggi sehingga tepat digunakan untuk masa pertumbuhan. Ada beberapa
keuntungan dari pupuk anorganik, yaitu (1) Pemberiannya dapat terukur dengan
tepat, (2) Kebutuhan tanaman akan hara dpat dipenuhi dengan perbandingan yang
tepat, (3) Pupuk anorganik tersedia dalam jumlah cukup, dan (4) Pupuk anorganik
mudah diangkut karena jumlahnya relatif sedikit dibandingkan dengan pupuk organik. Pupuk anorganik mempunyai kelemahan, yaitu selain hanya mempunyai unsur
makro, pupuk anorganik ini sangat sedikit ataupun hampir tidak mengandung unsur hara mikro.
BAB III
METODOLOGI
1.
Tekstur
Tanah
Label terlebih
dahulu diisi dengan keterangan yang terdiri dari: kelompok, departemen, dan
perlakuan. Mulut polybag dilipat keluar
± 3 cm, masukkan tanah yang telah tersedia sampai batas bawah lipatan
polybag. Siram merata tanah yang ada didalam polybag sampai permukaan tanah
basah, penyiraman selanjutnya dilakukan setiap hari. Tancapkan stek
ditengah-tengah dengan posisi miring 45o. Letakkan polybag pada
tempat yang telah disediakan. Amatilah pertumbuhan tanaman setiap minggunya
dengan cara mengukur tinggi, jumlah daun, jumlah dan gulma.
2.
Kesuburan
Tanah
Label terlebih dahulu diisi dengan keterangan
yang terdiri dari: kelompok, departemen, dan perlakuan. Mulut polybag dilipat
keluar ± 3 cm, masukkan tanah yang telah
tersedia sampai batas bawah lipatan polybag. Keluarkan kembali tanah diatas
tempat pencampur. Ambil sedikit tanah dan campur dengan pupuk sesuai dengan
dosis, aduk hingga homogen. Campuran tersebut dimasukkan ke gundukan tanah pada
tempat pencampur, aduk hingga homogen. Masukkan kembali tanah kedalam polybag.
Siram merata hingga tanah basah, penyiraman selanjutnya dilakukan setiap hari.
Tanam stek/pols ditengah-tengah tanah dalam polybag. Letakkan polybag pada
tempat yang telah disediakan. Pertumbuhan tanaman diamati setiap minggu.
3.
Ketersediaan
Air
Label terlebih dahulu diisi dengan
keterangan yang terdiri dari: kelompok, departemen, dan perlakuan. Mulut
polybag dilipat keluar ± 3 cm, masukkan
tanah yang telah tersedia sampai batas bawah lipatan polybag. Keluarkan kembali
tanah diatas tempat pencampur. Ambil sedikit tanah dan campur dengan pupuk
sesuai dengan dosis, aduk hingga homogen. Campuran tersebut dimasukkan ke
gundukan tanah pada tempat pencampur, aduk hingga homogen. Masukkan kembali
tanah kedalam polybag. Siram merata hingga tanah basah, penyiraman selanjutnya
dilakukan setiap hari. Tanam stek/pols ditengah-tengah tanah dalam polybag.
Letakkan polybag pada tempat yang telah disediakan. Pertumbuhan tanaman diamati
setiap minggu. Setelah dua minggu, dimulai perlakuan kering dan genangan.
4.
Intensitas
Cahaya
Label terlebih dahulu diisi dengan
keterangan yang terdiri dari: kelompok, departemen, dan perlakuan. Mulut
polybag dilipat keluar ± 3 cm, masukkan
tanah yang telah tersedia sampai batas bawah lipatan polybag. Keluarkan kembali
tanah diatas tempat pencampur. Ambil sedikit tanah dan campur dengan pupuk
sesuai dengan dosis, aduk hingga homogen. Campuran tersebut dimasukkan ke
gundukan tanah pada tempat pencampur, aduk hingga homogen. Masukkan kembali
tanah kedalam polybag. Siram merata hingga tanah basah, penyiraman selanjutnya
dilakukan setiap hari. Tanam stek/pols ditengah-tengah tanah dalam polybag.
Letakkan polybag pada tempat yang telah disediakan. Pertumbuhan tanaman diamati
setiap minggu.
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
1.
Tekstur
Tanah
Tabel 1.1 Data Pertumbuhan
|
Pengamatan ke-
(tanggal)
|
Perlakuan
|
Tinggi
vertikal1
(cm)
|
Jumlah daun1
|
Warna daun1
|
Gulma1
|
|
24 September
2014
|
Pasir
|
33,5
|
11
|
+++
|
34
|
|
Liat
|
32,5
|
10
|
++
|
8
|
|
|
Remah
|
28
|
4
|
+
|
24
|
|
|
1
Oktober 2014
|
Pasir
|
67
|
14
|
++
|
-
|
|
Liat
|
60
|
13
|
++
|
3
|
|
|
Remah
|
53
|
11
|
+++
|
4
|
|
|
8
Oktober 2014
|
Pasir
|
77
|
18
|
+++
|
5
|
|
Liat
|
67
|
14
|
+++
|
2
|
|
|
Remah
|
95
|
16
|
+++
|
1
|
|
|
15
Oktober 2014
|
Pasir
|
89
|
19
|
+++
|
7
|
|
Liat
|
71
|
13
|
+++
|
3
|
|
|
Remah
|
115
|
19
|
+++
|
4
|
|
|
5
November 2014
|
Pasir
|
165,5
|
17
|
++
|
-
|
|
Liat
|
105
|
16
|
++
|
1
|
|
|
Remah
|
164
|
19
|
++
|
7
|
|
|
12
November 2014
|
Pasir
|
191,5
|
15
|
++
|
-
|
|
Liat
|
124
|
14
|
++
|
-
|
|
|
Remah
|
183,5
|
20
|
++
|
-
|
|
|
19
November 2014
|
Pasir
|
215
|
15
|
++
|
-
|
|
Liat
|
145
|
14
|
+++
|
1
|
|
|
Remah
|
207
|
18
|
+++
|
3
|
Tabel 1.2 Data
Produksi
|
Parameter
produksi
|
Berat
|
Presentase
|
||||
|
P
|
L
|
R
|
P
|
L
|
R
|
|
|
Daun
|
142,4
|
42,4
|
142,2
|
5,02
|
33,38
|
66,44
|
|
Batang muda
|
||||||
|
Sisa batang
|
194,8
|
84,6
|
71,8
|
94,98
|
66,61
|
41,07
|
|
Akar
|
||||||
|
Total
|
205,1
|
127
|
214
|
100
|
99,99
|
99,99
|
|
|
||||||
Grafik 1.1 pengaruh
tekstur tanah terhadap pertumbuhan rumput

Diagram1.1 jumlah daun

Diagram1.3 pengaruh
tekstur tanah terhadap berat produksi

Tekstur tanah
Pengaruh
perbedaan tekstur tanah terhadap tingkat produksi rumput gajah dapat dilihat
pada grafik 1.1. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa pada tanah pasir dan
remah mempunyai tingkat pertumbuhan yang lebih baik, hal ini berbanding lurus
dengan tingkat produksi yang dapat dilihat pada diagram 1.3. hal ini
dikarenakan tanah yang berstruktur remah pada umumnya mempunyai perbandingan
yang relatif seimbang antara bahan padat dan ruang pori-pori pada tanahnya
(Kartasapoetra,1989). Grafik 1.1 menunjukkan data pertumbuhan rumput gajah tiap
minggu, diagram 1.2 menunjukkan data jumlah daun perminggu, dan diagram 1.3
menunjukkan jumlah produksi rumput gajah. Pada grafik 1.1 terlihat adanya penurunan
pertumbuhan pada waktu tertentu, hal tersebut disebabkan oleh kurangnya
penyiraman setiap minggunya. Dalam proses penyiraman ada beberapa kelompok yang
tidak menyiram tanaman sesuai dengan jadwal penyiraman masing-masing kelompok.
Tabel
1.3 menunjukkan data produksi rumput gajah. Produksi terbanyak yaitu pada tanah
pasir dan remah hal ini dikarenakan tanah remah sangat kaya akan bahan organik
serta ditambah dengan pemupukan dan biasanya tanah remah memiliki pH antara 5,5
hingga 7,0. Tanah berpasir pembesaran akar lebih cepat dibandigkan dengan tanah
liat.
2.
Kesuburan
Tanah
Tabel 2.1 Data Pertumbuhan
|
Pengamatan ke-
(tanggal)
|
Perlakuan
|
Tinggi
vertikal1
|
Jumlah daun1
|
Warna daun1
|
Gulma1
|
|
01
September 2014
|
P0
|
62,5
|
8
|
+
|
1
|
|
P1
|
56
|
11
|
+
|
2
|
|
|
P2
|
48,5
|
21
|
++
|
2
|
|
|
P3
|
61
|
7
|
+++
|
6
|
|
|
08
Oktober 2014
|
P0
|
76
|
12
|
++
|
3
|
|
P1
|
62
|
15
|
+
|
2
|
|
|
P2
|
62
|
26
|
++
|
1
|
|
|
P3
|
80
|
13
|
+++
|
2
|
|
|
15
Oktober 2014
|
P0
|
78,5
|
13
|
+++
|
1
|
|
P1
|
66,5
|
18
|
+++
|
7
|
|
|
P2
|
77,5
|
34
|
+++
|
1
|
|
|
P3
|
81,5
|
18
|
+++
|
1
|
|
|
05
November 2014
|
P0
|
81
|
21
|
+++
|
1
|
|
P1
|
91
|
28
|
+++
|
1
|
|
|
P2
|
99
|
71
|
+++
|
-
|
|
|
P3
|
106
|
70
|
+++
|
1
|
|
|
12
November 2014
|
P0
|
69
|
19
|
+++
|
-
|
|
P1
|
103
|
25
|
+++
|
2
|
|
|
P2
|
108
|
77
|
+++
|
-
|
|
|
P3
|
112
|
83
|
+++
|
-
|
|
|
19
November 2014
|
P0
|
70
|
22
|
+++
|
-
|
|
P1
|
118
|
33
|
+++
|
1
|
|
|
P2
|
112
|
80
|
+++
|
-
|
|
|
P3
|
114
|
80
|
+++
|
-
|
|
|
26
November 2014
|
P0
|
75
|
24
|
+++
|
3
|
|
P1
|
122
|
33
|
+++
|
1
|
|
|
P2
|
117
|
81
|
+++
|
-
|
|
|
P3
|
115
|
84
|
+++
|
5
|
Tabel 2.2 Data Produksi
|
Parameter
produksi
|
Berat (gram)
|
Presentase (%)
|
||||||
|
P0
|
P1
|
P2
|
P3
|
P0
|
P1
|
P2
|
P3
|
|
|
Edibel
|
35,0
|
100,4
|
212,0
|
239,4
|
40,98
|
54,68
|
54,78
|
63,16
|
|
Non edibel
|
50,4
|
83,2
|
175
|
139,6
|
59,01
|
45,31
|
45,22
|
36,83
|
|
Jumlah
|
85,4
|
183,6
|
387
|
379
|
99,99
|
99,99
|
100
|
99,99
|
Grafik2.1 pengaruh kesuburan tanah terhadap pertumbuhan
rumput

Diagram 2.2 jumlah
daun

Diagram 2.3 pengaruh
kesuburan tanah terhadap berat produksi

Kesuburan tanah
Kesuburan tanah sangat menentukan
tingkat pertumbuhan dan produksi tanaman. Untuk menambah kesuburan agar lebih
baik maka perlu melakukan pemupukan terhadap tanah tersebut. Pupuk yang
digunakan dalam praktikum ini meliputi, pupuk kandang, SP36, urea, dan KCl.
Pemupukan harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman akan hara.
Dari grafik 2.1 terlihat bahwa pada
perlakuan P1, P2, dan P3 mengalami pertumbuhan yang baik. Tetapi pada perlakuan
P0 mengalami pertumbuhan yang lambat, hal ini dikarenakan pada perlakuan P0
hanyalah sebagai indikator yang tidak diberi pupuk. Sedangkan pada perlakuan
P1, P2, dan P3 mengalami pertumbuhan yang sangat baik karena ketiga perlakuan
terseut diberi pupuk, baik pupuk organik (pupuk kandang) maupun pupuk kimiawi
(SP36, Urea, dan KCl). Pada diagram 2.3 juga menunjukkan tingkat produksi pada
perlakuan P1, P2, dan P3 yang sangat tinggi dan pada perlakuan P0 (tanpa pupuk)
menunjukkan tingkat produksi yang sangat sedikit.
3.
Ketersediaan
Air
Tabel 1.1 Data Pertumbuhan
|
Pengamatan ke-
(tanggal)
|
Perlakuan
|
Tinggi
vertikal1
|
Jumlah daun1
|
Warna daun1
|
Gulma1
|
|
08
Oktober 2014
|
Kering
|
41
|
43
|
++
|
14
|
|
Lapang
|
21
|
33
|
++
|
3
|
|
|
Genang
|
30
|
50
|
++
|
3
|
|
|
15
Oktober 2014
|
Kering
|
63,5
|
62
|
++
|
-
|
|
Lapang
|
37,5
|
61
|
++
|
-
|
|
|
Genang
|
38,5
|
88
|
++
|
-
|
|
|
05
November
2014
|
Kering
|
88
|
232
|
++
|
-
|
|
Lapang
|
69
|
235
|
++
|
5
|
|
|
Genang
|
111
|
243
|
+++
|
1
|
|
|
12
November 2014
|
Kering
|
92,5
|
210
|
+++
|
-
|
|
Lapang
|
122,5
|
369
|
+++
|
-
|
|
|
Genang
|
111
|
291
|
+++
|
-
|
|
|
19
November
2014
|
Kering
|
99,5
|
120
|
+++
|
-
|
|
Lapang
|
139,5
|
374
|
+++
|
-
|
|
|
Genang
|
114
|
299
|
+++
|
-
|
|
|
26
November 2014
|
Kering
|
114
|
125
|
+++
|
-
|
|
Lapang
|
163
|
380
|
+++
|
-
|
|
|
Genang
|
123
|
300
|
+++
|
-
|
|
|
03
Desember 2014
|
Kering
|
117
|
95
|
+++
|
-
|
|
Lapang
|
165
|
275
|
+++
|
-
|
|
|
Genang
|
129
|
330
|
+++
|
-
|
Tabel 1.2 Data Produksi
|
Parameter
produksi
|
Berat
|
Presentase
|
||||
|
Kering
|
Genang
|
Lapang
|
Kering
|
Genang
|
Lapang
|
|
|
Edibel
|
77,0
|
198,4
|
171,8
|
44,92
|
66,62
|
90,42
|
|
Non-edibel
|
94,4
|
99,4
|
18,2
|
55,07
|
33,37
|
9,56
|
|
Jumlah
|
171,4
|
297,8
|
190
|
99,99
|
99,99
|
99,98
|
Grafik 3.1 pengaruh
ketersediaan air terhadap pertumbuhan rumput

Diagram 3.2 jumlah
daun

Diagram 3.3 pengaruh
ketersediaan air terhadap berat produksi

Ketersediaan air
Air
berfungsi sebagai pelarut unsur hara yang ada didalam tanah agar mudah diserap
oleh akar tanaman. Air juga sangat mempengaruhi tingkat produksi tanaman.
Ketersediaan air diantaranya berasal dari curah hujan dan penyiraman. Kebutuhan
air berbeda-beda pada setiap fase pertumbuhan. Akibat kekurangan air pada
setiap fase pertumbuhan menyebabkan gangguan tertentu pada tanaman. Air yang
melebihi kapasitas lapang akan menyebabkan aerasi yang buruk sehingga akan
menyebabkan tanah kekurangan oksigen dan akan berdampak buruk bagi tanaman
karena tanaman dan bakteri penambat nitrogen sangat membutuhkan oksigen.
Berdasarkan
data pertumbuhan pada grafik 3.1 terlihat bahwa pada perlakuan kapasitas lapang
menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan kering
dan genangan. Hal ini dikarenakan pada perlakuan kapasitas lapang antara air
dan oksigen seimbang sehingga tanaman tumbuh dengan cepat. Disamping itu, pada
perlakuan kering, tanaman tidak tumbuh dengan cepat dan baik karena pada tanah
kering ketersediaan air pun tidak mencukupi kebutuhan tanaman sehingga unsur
hara sukar larut dan diserap oleh tanaman, begitu juga dengan perlakuan
genangan pertumbuhan kurang baik, hal tersebut disebabkan oleh banyaknya air
pada polybag sehingga tanah pada perlakuan ini kekurangan oksigen yang akan
menyebabkan tanaman dan bakteri penambat nitrogen kekurangan oksigen.
Dari
diagram 3.3 menunjukkan data yang berbanding terbalik dengan data pertumbuhan.
Rumput pada perlakuan genagan memiliki produksi paling tinggi karena pada
perlakuan tersebut banyak pemberian pupuk terutama pupuk urea. Karena pupuk
urea sangat mudah larut.
4.
Intensitas
Cahaya
Tabel 1.1 Data Pertumbuhan
|
Pengamatan ke-
(tanggal)
|
Perlakuan
|
Tinggi
vertikal1
|
Jumlah daun1
|
Warna daun1
|
Gulma1
|
|
15 Oktober
2014
|
50%
|
33
|
8
|
+
|
8
|
|
100%
|
23
|
8
|
+
|
2
|
|
|
05 November
2014
|
50%
|
106
|
15
|
+++
|
4
|
|
100%
|
72
|
13
|
++
|
-
|
|
|
12
November 2014
|
50%
|
124
|
16
|
+++
|
2
|
|
100%
|
83
|
13
|
++
|
1
|
|
|
19
November 2014
|
50%
|
144
|
18
|
+++
|
-
|
|
100%
|
95
|
16
|
+++
|
-
|
|
|
26
November 2014
|
50%
|
152
|
19
|
+++
|
-
|
|
100%
|
105
|
20
|
+++
|
-
|
|
|
03 Desember
2014
|
50%
|
150
|
19
|
+++
|
-
|
|
100%
|
130
|
16
|
+++
|
-
|
Tabel 1.2 Data Produksi
|
Parameter
produksi
|
Berat
|
Presentase
|
|||
|
50%
|
100%
|
50%
|
100%
|
|
|
|
Edibel
|
175,4
|
122
|
94,50
|
65,73
|
|
|
Non-edibel
|
58,6
|
63,6
|
25,04
|
34,27
|
|
|
Jumlah
|
234
|
185,6
|
100
|
100
|
|
Grafik 4.1 pengaruh
intensitas cahaya terhadap pertumbuhan rumput

Diagram 4.2 jumlah
daun

Diagram 4.3 pengaruh
intensitas cahaya terhadap berat produksi

Intensitas
cahaya
Besarn
kecilnya intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman menentukan kemampuan
tanaman untuk berfotosintesis. Intensitas cahaya adalah jumlah energi radiasi yang dipancarkan sebagai
cahaya kesuatu arah tertentu selain itu intensitas cahaya juga merupakan jumlah
cahaya yang diterima oleh bumi bergantung pada kualitas dan lama periode
penyinaran (Porcell dan Bishop, 1975 dalam kusharsoyo, 2001).
Berdasarkan
tabel 4.1, pertumbuhan jagung (zea mays)
pada intensitas cahaya 50% lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan dengan pada
intensitas cahaya 100%. Hal ini diakibatkan oleh pada perlakuan 100% intensitas
cahaya yang diserap terlalu banyak dan pada tanah yang sebagai pondasi atau
tempat tumbuhnya juga kekurangan air akibat penyiraman yang tidak efektif oleh
setiap kelompok. Dalam eksperimen yang dilakukan oleh Boysen-Jensen (1910)
menyimpulkan bahwa bahan kimia yang dihasilkan dari bagian ujung daerah
perpanjangan akan turun apabila terkena cahaya matahari dan berpindah ke sisi
yang tidak terkena matahari. Pada diagram 4.3, juga menunjukkan bahwa produksi
jagung pada perlakuan 50% lebih tinggi.
BAB V
KESIMPULAN
Produktivitas hijauan pakan sangat
bergantung pada tekstur tanah, kesuburan tanah, intensitas cahaya dan ketersediaan
air. Tekstur tanah yang paling optimal untuk pertumbuhan rumput adalah tanah
yang bertekstur remah. Pertumbuhan dan fotosintesis jagung sangat baik pada
intensitas 50%. Pemberian pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk kimiawi
(urea, SP36 dan KCl) dengan cara dikombinasi dapat meningkatkan ketersediaan
unsur hara didalam tanah. Ketersediaan
air berperan penting terhadap pertumbuhan tanaman diantaranya agar tanaman
tidak layu (kekurangan air) hingga mencapai tingkat produktivitasnya.
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
Jumin, H. B. 1992. Ekologi Tanaman
sebagai Pendekatan Fisiologis. Rajawali Press.
Kartasapoetra, A. G., 1989. Kerusakan
Tanah Pertanian dan Usaha untuk Merehabilitasinya. Bina Aksara. Jakarta
Kusharsoyo,
A.P. 2001. Pengaruh Pupuk NPK, Asam Humat dan Frekuensi Pemanenan terhadap
Produktivitas dan Rendemen Handeuleum pada Intensitas cahaya matahari yang
berbeda. Skripsi. Manajemen Hutan. FakultasKehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Bogor
Setiadi. 1986. Bertanam
Durian. Penebar Swadaya. Jakarta.
LAMPIRAN
1.
Tekstur
tanah
%
Edibel =
= 
%
Non-Edibel =
= 
Total = edibel + non-edibel
= 58,92 + 86,38
= 145,3
2.
Kesuburan
tanah
%
Edibel =
= 
%
Non-Edibel =
=
Total = edibel + non-edibel
= 40,98 + 59,01
= 99,99
3.
Ketersediaan
air
%
Edibel =
= 
%
Non-Edibel =
=
Total
= edibel + non-edibel
= 44,92 + 55,07
= 99,99
4.
Intensitas
cahaya
%
Edibel =
= 
%
Non-Edibel =
=
Total
= edibel + non-edibel
= 74,96 + 25,04
= 100
Tidak ada komentar:
Posting Komentar