Minggu, 11 Januari 2015

pemanfaatan keong mas sebagai pakan ternak

PENGANTAR ILMU NUTRISI
PEMANFAATAN KEONG MAS SEBAGAI PAKAN TERNAK

Oleh :
Hendrikus Helwin
D24130102






logoipb.png








DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
BAB I
PENDAHULUAN

v Latar belakang
Bagi sebagian petani sawah, keong mas merupakan hama yang merusak tanaman padi bahkan dapat menggagalkan target produksi gabah yang ingin dicapai. Hal ini dapat dimaklumi karena serangan keong mas sangat cepat sesuai dengan cepatnya perkembangan populasinya. Namun jika dilihat dari sisi peternakan keong mas merupakan sumber pakan yang potensi dan tidak susah untuk mendapatkannya.
Pemanfaatan sumber pakan ternak yang potensi di Indonesia harus digali lebih dalam. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi impor pakan secara berlebihan yang mengakibatkan kurangnya kreatifitas para peternak dalam mengolah pakan yang ada dilingkungannya. Apabila peternak dalam negeri sudah bisa mengolah pakan yang potensi yang ada di lingkungan sekitar, maka tidak diragukan lagi bahwa kedepannya peternak dalam negeri akan mengalami kemajuan yang lebih signifikan.

v Rumusan masalah
Berdasarkan uraian tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut
Bagaimana pemanfaatan pakan yang berpotensi yang belum terlalu dikenal oleh peternak.?
Bagaimana memperkenalkan pakan yang berpotensi yang ada dilingkungan sekitar.?

v Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memperkenalkan pakan yang potensi bagi ternak khususnya yang berasal dari Indonesia.

v Metode penulisan
Penulisan dilakukan secara diskriptif dengan mengambil bahan dari sumber yang berkaitan dengan judul makalah.














BAB II
PEMBAHASAN



v Kandungan gizi keong mas
Keong mas hidup di persawahan, rawa-rawa maupun di dekat sungai hampir di seluruh Indonesia. Binatang ini kerap diburu para petani karena dianggap sebagai hama yang dapat merusak tanaman padi muda dalam satu malam. Dalam kondisi lapang, 6 ekor keong mas per meter persegi mampu mengurangi hasil panen padi sebanyak 15% dan kerusakan yang ditimbulkan berlangsung hingga 50 hari setelah penanaman.
Akan tetapi keong mas ini ternyata memiliki kandungan gizi yang tinggi. Dari hasil uji proksimat, kandungan protein pada keong mas berkisar antara 16 hingga 50 persen dan hampir 40% berat tubuhnya terdiri atas protein yang merupakan zat pembangun makhluk hidup. Selain itu, Keong mas juga diketahui mengandung asam omega 3, 6 dan 9. Dalam  setiap 100 gram daging keong mas mengandung energi makanan 83 kalori, protein 12,2 gram, lemak 0,4 gram, karbohidrat 6,6 gram, abu 3,2 gram, fosfor 61 mg, natrium 40 mg, kalium 17 mg, riboflavin 12 mg, niacin 1,8 mg serta kandungan nutrisi makanan yang lain seperti Vitamin C, Zn, Cu, Mn dan Iodium. Selain banyak mengandung gizi tersebut,keong mas juga kaya akan kalsium.
Menurut Anonim (2004), daging keong mas mengandung berbagai jenis asam amino dengan komposisi: arginin 18,9%, histidin 2,8%, Isoleusin 9,2%, leusin 10%, lysine 17,5%, methionin 2%, phenilalamin 7,6%, threonin 8,8%, triptofan 1,2%, dan valin 8,7%.
Berikut Komposisi daging keong tiap 100 gram, USDA (2006) yang meliputi :
No
Komposisi Gizi
Jumlah
1
Energi
90 kkal
2
Air
79 g
3
Protein
16,1 g
4
Karbohidrat
2 g
5
Lemak
1,4 g
6
Magnesium
250 mg
7
Kalium
170 mg
8
Zat Besi
3,5 mg
9
Fosfor
272 mg
10
Kalium
382 mg
11
Niacin
1,4 mg
12
Folat
6 mg
13
Vitamin A
100 UI
14
Vitamin E
5 mg
Sumber :USDA (2006)
Daging keong dapat diberikan untuk pakan ternak dalam keadaan mentah maupun dalam bentuk olahan. Biasanya keong dijadikan pakan pada jenis ternak seperti sapi, kambing, unggas (ayam maupun bebek). Selain itu keong mas juga dapat dijadikan pakan ikan seperti, pada ikan patin, lele, gurame, ikan mas, dan juga untuk pakan belut.
Mengubah keong menjadi pakan ternak berkulitas dapat  dilakukan dengan mudah. Tentunya ada beberapa hal yang harus disiapkan. Pemanfaatan keong ini dapat menjadi solusi pakan ternak alternatif dan berkualitas untuk mendorong peningkatan produksi usaha ternak.
v Pengolahan Keong Mas
a.      Pengolahan Dengan Cara Silase
Silase merupakan cara pengolahan pakan ternak dengan cara mengawetkan melalui proses penyimpanan, bahan pakan ternak tersebut akan mengalami fermentasi sehingga mudah untuk dicerna oleh ternak. silase umumnya dilakukan pada tanaman, rerumputan, biji-bijian namun silase juga dapat dilakukan pada daging keong. Ada beberapa langkah dalam pembuatan silase daging keong mas, sebagai berikut: Langkah-langkah membuat silase daging keong. Pertama-tama kumpulkan keong dari sawah, kolam, sungai sebanyak-banyaknya. Keluarkan daging segar keong dari cangkangnya, karena jelas tidak mungkin cangkangnya diikutkan dalam silase, jadi ambil dagingnya saja. Cuci daging yang telah dikeluarkan dengan bersih, pakai air biasa saja. Lakukan cuci kembali dengan air garam. Kemudian cuci lagi dengan air kapur, supaya pakan ternak yang dihasilkan terhidar dari racun. Daging selanjutnya digiling dengan mesin pengiling lalu ditiriskan, supaya kadar air berkurang. Campur daging keong giling tersebut dengan bekatul. Dalam mencampur bisa menggunakan perbandingan 4:1 kg. Siapkan tong plastik, kemudian isi dengan campuran daging keong dan bekatul yang tadi sudah disiapkan. Padatkan, supaya tidak ada rongga udara. Tutup dengan plastik secara rapat. Lakukan pengecekan secara berkala dan dengan mengaduk sekaligus. Proses pembuatan pakan ternak berupa silase keong ini, agar fermentasi daging keong berlangsung sempurna maka dibutuhkan waktu 12 hari. Setelah itu silase sudah dapat digunakan untuk pakan ternak.
Silase daging keong sangat bermanfaat sebagai tambahan pakan hewan ternak. Kandungan protein yang tinggi dapat membatu mempercepat pertumbuhan ternak. Pada jenis ternak rumnisia pemberian silase keong cukup 10% dari total pemberian pakan perharinya.
Berbeda halnya pada ternak ayam atau unggas, pakan ternak dari silase keong dapat digunakan dengan takaran yang lebih banyak yaitu 20%. Pakan ternak berupa silase dapat bertahan lebih lama yaitu caranya dengan melakukan penjemuran atau dioven. Manfaat pembuatan silase keong untuk pakan ternak selain untuk mengawetkan daging keong, juga untuk mengatifkan zat selulosa melalui proses fermentasi. Dengan aktifnya kandungan tersebut dapat memudahkan hewan ternak dalam mencerna makanan dan dapat mempersingkat penyerapan nutrisi.

b.     Pembuatan Tepung
Tahapan pembuatan tepung dari daging keong lebih mudah dibanding dengan pembuatan silase, karena tidak memakan waktu lama. Biasanya tepung daging keong digunakan sebagai pakan ternak dan juga untuk pakan ikan seperti, ikan gurame, ikan mas, ikan lele, ikan patin dan jenis ikan lainya.
Ada lima langkah mudah pembuatan pakan ternak berupa tepung daging keong. Pertama-tama kumpulkan keong, kemudian pisahkan daging dengan cangkangnya. Iris daging keong menjadi bagian tipis-tipis. Keringkan dengan dijemur di bawah terik matahari atau dengan di oven 60oC, supaya kadar air pada daging keong berkurang ± 14%. Setelah daging benar-benar kering, giling daging tersebut menjadi tepung (granule). Tepung siap dicampurkan dalam pakan ternak atau untuk pakan ikan. Pembuatan pakan ternak dengan mengubah keong menjadi pakan berkualitas tinggi, secara nilai ekonomis cukup menguntungkan, karena dapat menekan biaya pakan ternak, yang biasanya cukup besar dikeluarkan oleh para peternak.

























BAB III
KESIMPULAN
Keong mas merupakan hewan yang berpotensi sebagai pakan ternak dengan kandungan  energi 90 kkal, air 79 g, protein 16,1 g, karbohidrat 2 g, lemak 1,4 g, magnesium 250 mg, zat besi 3,5 mg, fosfor 272 mg, kalium 382 mg, niacin 1,4 mg, folat 6 mg, vitamin A 100 UI dan vitamin E 5 mg (USDA 2006). Pemanfaatannya bisa secara lansung atau dengan pengolahan silase dan dijadikan tepung keong. Manfaat pembuatan silase keong untuk pakan ternak yaitu untuk mengawetkan daging keong dan mengatifkan zat selulosa melalui proses fermentasi. Dengan aktifnya kandungan tersebut dapat memudahkan dalam pencernaannya. pembuatan tepung keong dapat mengawetkan keong supaya dapat disimpan lebih lama.






















BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2004a. Snail meal, Fresh snails, Boiled snails, Raw snails, Golden snail (Pomacea sp, Pomacea ensularis canaliculata), Golden apple snail (Ampularia sp., Helix aspersa), Land snail (Trachia vittata, Pila globosa). http: //www.fao.org/ag/AGA/AGAP/FRG/AFRIS/DATA/340.htm
Anonim. 2004b. Eating Apple Snails. http: //www.applesnail.net. [2 Desember 2004].






















LAMPIRAN

a.      Keong segar
pakan-ternak-keong-pakan-ternak-alternatif-pemanfaatan-keong-mas-sebagai-pakan-berkualitas.jpg
b.     Keong setelah dibersihkan dan dijemur
pakan-ternak-keong-pakan-ternak-alternatif-pemanfaatan-keong-mas-sebagai-pakan-berkualitas-telur-keong-mas-jemur-daging.jpg

C. silase keong
SAM_2660.JPG 

c.      Tepung keong

download (1).jpg

laporan praktikum pengantar manajemen pastura

LAPORAN PRAKTIKUM MATAPELAJARAN PENGANTAR MANAJEMEN PASTURA
Tanggal : 24 Desember 2014
PENGARUH PUPUK, JENIS TANAH, INTENSITAS CAHAYA DAN KETERSEDIAAN AIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN

Nama                          : Hendrikus Helwin
NIM                            : D24130102
Group/kelompok        : Rabu siang/ 1









download.jpg





DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.   Latar Belakang
Dalam peternakan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas produksi,salah satunya adalah pakan yang diberikan.Pakan hijauan merupakan pakan yang memiliki peran penting dalam proses produksi khususnya bagi ternak ruminansia,yaitu sebagai sumber energi dan protein.Secara umum,pakan hijauan terbagi menjadi dua,yaitu rumput dan leguminosa(Lubis, 1963).Pakan hijauan dapat diperoleh dengan cara mengambil langsung dari alam  atau dengan cara budidaya.Dalam budidaya hijauan pakan, terdapat beberapa faktor abiotik dan biotik.Faktor abiotik antara lain: tekstur tanah,kesuburan tanah,ketersediaan air dan intensitas cahaya. Tekstur tanah adalah perbandingan relative antara fraksi pasir, debu, liat yang terkandung dalam suatu massa tanah(Soewardi dkk,1998). Tekstur tanah sangat berpangaruh terhadap pertumbuhan tanaman,yaitu berkaitan dengan kemampuan daya ikat tanah terhadap air,bahan organik,dan bahan anorganik.Selain itu,tekstur tanah juga berperan dalam perkembangan akar tanaman serta proses penyaluran udara dalam tanah(aerasi).
            Kesuburan Tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menyediakan unsur hara secara seimbang untuk menghasilkan produk tanaman yang diinginkan, pada lingkungan tempat tanah itu berada.Tanah memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung sejumlah faktor pembentuk tanah di lokasi tersebut, yaitu: Bahan induk, Iklim, Relief, Organisme, atau Waktu. Petunjuk yang berguna untuk mengestimasi kesuburan tanah adalah struktur, tekstur, dan keasaman tanah (Nyakpa et al, 1988). Selain itu, kesuburan tanah juga dipengaruhi oleh adanya penambahan pupuk.Pupuk yang umum ditambahkan pada tanah adalah pupuk organik dan pupuk non-organik.
            Ketersediaan air merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan tanaman,hal ini bekaitan dengan pemenuhan kebutuhan air tanaman untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya. Air juga diperlukan sebagai hara untuk pembentukan senyawa baru (Harjadi, 1979).Setiap tanaman memiliki kebutuhan air yang berbeda-beda.Apabila ketersediaan air tidak seimbang,baik itu kekurangan maupun kelebihan maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman tersebut akan terganggu yang berakibat pada tingkat produksvfitas yang dihasilkan.
            Intensitas cahaya (penyiranan) adalah jumlah energi yang diterima oleh bumi pada waktu dan areal tertentu (Wetzel and Licken, 1979 dalam Kusharsoyo, 2001 ).Intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman mempunyai pengaruh yang besar terhadap berbagai proses fisiologis tumbuhan,khususnya proses fotosintesis.Setiap tanaman memiliki perbedaan kebutuhan cahaya.Ada tanaman yang membutuhkan cahaya banyak sehingga pertumbuhannya cepat dan ada pula tananman yang membutuhkan cahaya sedikit sehingga pertumbuhannya lambat. Dari uraian diatas,maka praktikum perlu dilakukan untuk mengetahui pengaruh beberapa faktor abiotik terhadap pertumbuhan dan produktivitas hijauan pakan.

2.     Tujuan

a.      Tekstur tanah
   Mengetahui pengaruh perbedaan tekstur tanah terhadap pertumbuhan dan produktivitas hijauan pakan.
b.     Kesuburan tanah
Mengetahui pengaruh perbedaan kesuburan tanah terhadap pertumbuhan dan produktivitas hijauan pakan.
c.      Kersediaan air
Mengetahui pengaruh perbedaan kersediaan air terhadap pertumbuhan dan produktivitas hijauan pakan.
d.     Intensitas cahaya
Mengetahui pengaruh perbedaan intensitas cahaya terhadap pertumbuhan dan produktivitas hijauan pakan.
























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


1.     Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)

Rumput gajah merupakan salah satujenis hijauan pakan ternak yang berkualitas tinggi dan disukai oleh ternak. Rumput ini bersal dari afrika daerah tropik, perenial, dan dapat tumbuh tinggi hingga 3-4,5 m dengan nama latin pennisetum purpureum. Tumbuh berbentuk rumpun dengan lebar rumpun hingga satu meter. Pelepah daun gundul hingga berbulu pendek, helai daun bergaris dengan dasar yang lebar, ujungnya runcing. Panjang daun 16-90 cm dan lebar daun 8-35 mm, berbatang keras dan tebal serta berbunga seperti es lilin. Rumput ini tumbuh merumpun dengan perakaran serabut, dan terus menghasilkan anakan apabila dipangkas secara teratur. Padalahan tumpang sari, rumput gajah dapat ditanam pada guludan-guludan sebagai pencegah longsor akibat erosi. Selain itu, rumput ini juga baik sebagai rumput potongan.
Rumput gajah dapat hidup diberbagai tempat memperbanyak diri melalui biji, namun sebagai produksi tanam terlalu sulit. Rumput gajah lebih mudah ditanam dengan stek batang dari stolon. Bahan stek berasal dari batang yang sehat (baik) dan tua, dengan panjang stek 20-25 cm (2-3 ruas atau minimal 2 node) dengan jarak tanam bervariasi 60 x 75 cm, 60 x 100 cm, 50 x 100cm, 75 x 100 cm. Hal tersebut juga sangat ditentukan oleh kesuburan tanah. Pada tanah yang subur lebih baik jarak tanam diperlebar, sebab pada umur beberapa bulan saja tanaman akan banyak anakan dan cepat menutup tanah.
Rumput pennisetum purpureum dapat ditanam bersama dengan jenis leguminosa seperti centrocema pubescens. Leguminosa bisa menambahkan nitrogen kedalam tanah, karena adanya bakteri dalam bintil-bintil akar (rizobium). Sedangkan rumput sendiri membutuhkan nitrogen dari dalam tanah dengan jalan menghisap nitrat atau amonia yang larut dalam air.

2.     Rumput setaria (setaria splendida)

Rumput Setaria sering disebut setaria Lampung atau Timothy Emas Lampung. Rumput ini berasal dari kawasan Afrika tropis, kemudian berkembang di Kenya dan Senegal. Rumput setaria tumbuh tegak dan berumpun lebat, tingginya dapat mencapai 2 m, berdaun halus dan lebar berwarna hijau gelap, berbatang lunak dengan warna merah keunguan, pangkal batangnya pipih dan pelepah daun pada pangkal batang tersusun seperti kipas. Setaria splendida merupakan jenis tanaman yang responsif terhadap pupuk urea. Rumput ini cocok ditanam di daerah yang mempunyai ketinggian 1200 m dpl. Dengan curah hujan tahunan 750 mm atau lebih, rumput ini dapat tumbuh pada berbagai janis tanah dan tahan terhadap genangan. Pembiakan rumput ini dapat dilakukan dengan pols pada jarak tanam 60 x 60 cm. Produksi rumput ini dapat mencapai 100 ton ruput segar per-hektar per-tahun (Rahmat Rukmana).




3.     Rumput Koronivia (brachiaria humidicola)

Rumput ini berasal dari Afrika Selatan dan kemudian menyebar ke daerah Fiji dan Papua Nugini. Rumput ini merupakan tanaman tahunan yang berkembang dengan stolon yang begitu cepat sehingga bila ditanam di lapang akan membentuk hamparan dan mencapai tinggi 50 m. Daunnya tidak berbulu dan umumnya menggulung untuk menhan penguapan air. Helai daunnya gepeng dengan panjang 12-25 cm dan lebarnya kira-kira 5-16 mm. Pola adaptasinya adalah tahan terhadap kekeringan dan cukup tahan terhadap genangan akan tetapi tidak setahan Brachiaria mutica. Rumput ini tahan terhadap penggembalaan berat dan mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap invasi gulma tetapi kurang cocok bila dilakukan tanaman campuran dengan leguminosa karena cepat sekali menutup tanah sehingga akan menekan pertumbuhan leguminosa. Tanaman ini tahan terhadap tanah yang mengandung aluminium tinggi dan sangat responsive terhadap pemupukan nitrogen yang tinggi.Rumput ini dapat dikembangkan dengan stolon yang begitu cepat tumbuh maupun dengan biji.

4.     Jagung (zea mays L)

Jagung (zea mays L) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Jagung berasal dari Meksiko, Andenan, dan Asia. Jagung adalah sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk di beberapa daerah indonesia (Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak, diambil minyak dari bijinya, dibuat tepung jagung. Jagung merupakan tanaman musiman (annual). Satu siklus hidupnya hanya mencapai 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung yang umumnya berketinggian 1-3 m, ada varietas yang dapat mencapai ketinggian 6 m.

5.     Tanah pasir

Tanah pasir merupakan tanah yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil. Pasir biasanya berbentuk gumpal membulat, gumpal menyudut atau kubik. Tanah yang didominasi fraksi pasir dapat bersifat kasar, pasiran atau ringan mudah diolah karena longgar dan gembur ( Hadiprawiro, 1998). Tanah pasir sangat miskin akan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Tanah pasir memiliki ukuran diameter partikel antara 2,00-0,02 mm. Ukuran partikel yang cukup besar ini menyebabkan tanah pasir bertekstur kasar yang dicirikan adanya ruang pori besar diantara butir-butirnya. Kondisi ini menyebabkan tanah menjadi berstruktur lepas dan gembur. Berdasarkan ciri-ciri tanah pasir tersebut dapat dijelaskan bahwa tanah pasir memiliki kemampuan mengikat air yang sangat rendah. Tanah pasir sangat tidak cocok digunakan sebagai media tanam disebabkan tanah ini memiliki partikel besar kurang dapat menahan air.

6.   Tanah Remah

Tanah yang berstruktur remah merupakan tanah yang distribusi zarah pasir, liat dan debu yang relatif seimbang. Keseimbangan ini sangat berpengaruh pada pencukupan kebutuhan tanaman akan air dan udara bagi kelangsungan pertumbuhannya yang baik. Sedangkan bahan padatnya dapat menjadi pegangan akar sehingga pertumbuhannya kuat dan resistensi terhadap berbagai pengaruh yang akan merobohkannya (Kartasapoetra, 1989).

7.     Tanah Liat

Tanah liat merupakan tanah yang tergolongkan koloid dengan diameter kurang dari 0,002 mm. Koloid tanahlah yang menahan air dan unsur hara yang kemudian akan diserahkan kepada tanaman. Tanah liat memegang terlalu banyak air sehingga udara tanahnya tidak memiliki ruang pori lagi dan akibatnya tanaman akan mengalami defisiensi udara (Indranada,1989 dalam Kusharsoyo, 2001).
Tanah liat adalah tanah yang berbutir halus yang bersifat seperti lempung yang memiliki kapasitas, tidak memperlihatkan sifat dilatasi dan tidak mengandung sejumlah butir kasar yang berarti mekanika tanah  (Kartasapoetra, 1989). Tanah lempung berbentuk  lempeng berkenaan daya stukturnya yang berlapis-lapis-lapis kecuali mengandung oksida dan hidroksida besi. Lempung berwarna kelabu, putih, dan merah jika mterselaputi oleh besi. Tanah berstuktur halus sering bersifat berat diolah karena sangat liat dan lekat sewaktu basah dan keras sewaktu kering. Tanah yang dirajai fraksi lempeng juga disebut berstuktur berat.
10.  Intensitas Cahaya
Intensitas cahaya (penyiranan) adalah jumlah energi yang diterima oleh bumi pada waktu dan areal tertentu (Wetzel and Licken, 1979 dalam Kusharsoyo, 2001 ). Intensitas cahaya yang tinggi mempengaruhi kandungan air daun dan daun akan mengalami defisit air yang akan diikuti oleh penutupan stomata sehingga akan mengurangi laju fotosintesis (Harjadi, 1979). Intensitas cahaya tinggi juga meningkatkan ketebalan batang dengan pertumbuhan yang baik dari xylem dan menyebabkan jaringan dan internode pendek, serta akan mempengaruhi perkembangan dan perluasan daun yang baik bila dalam keadaan yang sesuai (Daryanto,1973 dalam Kusharsoyo, 2001).
Cahaya merupakan bagian spectrum radiasi  matahari dan merupakan komponen lingkungan fisik yang sangat penting bagi seluruh makhluk hidup khususnya tanaman, yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Jumin, 1992). Pertumbuhan tanaman tergantung pada intensitas, kualitas, lamanya (perioditas) dan arah cahaya (Setiadi, 1986). Energi cahaya sangat diperlukan dalam kegiatan fotosintesis dan sejumlah pengikatan N melalui reaksi kimia. Panjang gelombang yang paling bermanfaat bagi tanaman adalah 400-700 nm. Laju fotosintesa diperlambat oleh intensitas cahaya yang melebihi atau di bawah kisaran normal bagi kebutuhan normal karena intensitas cahaya matahari adalah peubah yang kritis pada proses fotosintesa (Monteith, 1977 dalam Kusharsoyo 2001).
11. Pupuk organik
Pupuk Organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat dalam bentuk padat atau cair. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota (sampah). Fungsi dari pupuk organik lebih dominan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
12. Pupuk anorganik
Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh dengan meramu bahan-bahan kimia anorganik berkadarhara tinggi. Pupuk anorganik atau pupuk buatan dapat dibedakan menjadi pupuk tunggal dan pupuk majemuk.  Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu unsur hara dominan yang diperlukan oleh tanaman misalnya urea yang mengandung N, TSP atau SP 36 mengandung P, dan KCl atau ZK dengan unsur K yang dominan.  Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara misalnya N + P, P + K, N + K, N + P + K dan sebagainya. Agar praktis, petani biasanya memakai pupuk mejemuk. Umumnya di pasaran beredar pupuk dengan kandungan utama Nitrogen, fosfor, dan kalium dengan berbagai perbandingan. Besar kecilnya perbandingan itu dicantumkan di label kemasan. Tulisan 20;10;10 artinya kandungan nitrogen paling tinggi sehingga tepat digunakan untuk masa pertumbuhan. Ada beberapa keuntungan dari pupuk anorganik, yaitu (1) Pemberiannya dapat terukur dengan tepat, (2) Kebutuhan tanaman akan hara dpat dipenuhi dengan perbandingan yang tepat, (3) Pupuk anorganik tersedia dalam jumlah cukup, dan (4) Pupuk anorganik mudah diangkut karena jumlahnya relatif sedikit dibandingkan dengan pupuk organik.  Pupuk anorganik mempunyai  kelemahan, yaitu selain hanya mempunyai unsur makro, pupuk anorganik ini sangat sedikit ataupun hampir tidak mengandung  unsur hara mikro.











BAB III
METODOLOGI


1.     Tekstur Tanah
Label terlebih dahulu diisi dengan keterangan yang terdiri dari: kelompok, departemen, dan perlakuan. Mulut polybag dilipat keluar  ± 3 cm, masukkan tanah yang telah tersedia sampai batas bawah lipatan polybag. Siram merata tanah yang ada didalam polybag sampai permukaan tanah basah, penyiraman selanjutnya dilakukan setiap hari. Tancapkan stek ditengah-tengah dengan posisi miring 45o. Letakkan polybag pada tempat yang telah disediakan. Amatilah pertumbuhan tanaman setiap minggunya dengan cara mengukur tinggi, jumlah daun, jumlah dan gulma.
2.     Kesuburan Tanah
 Label terlebih dahulu diisi dengan keterangan yang terdiri dari: kelompok, departemen, dan perlakuan. Mulut polybag dilipat keluar  ± 3 cm, masukkan tanah yang telah tersedia sampai batas bawah lipatan polybag. Keluarkan kembali tanah diatas tempat pencampur. Ambil sedikit tanah dan campur dengan pupuk sesuai dengan dosis, aduk hingga homogen. Campuran tersebut dimasukkan ke gundukan tanah pada tempat pencampur, aduk hingga homogen. Masukkan kembali tanah kedalam polybag. Siram merata hingga tanah basah, penyiraman selanjutnya dilakukan setiap hari. Tanam stek/pols ditengah-tengah tanah dalam polybag. Letakkan polybag pada tempat yang telah disediakan. Pertumbuhan tanaman diamati setiap minggu.
3.     Ketersediaan Air
            Label terlebih dahulu diisi dengan keterangan yang terdiri dari: kelompok, departemen, dan perlakuan. Mulut polybag dilipat keluar  ± 3 cm, masukkan tanah yang telah tersedia sampai batas bawah lipatan polybag. Keluarkan kembali tanah diatas tempat pencampur. Ambil sedikit tanah dan campur dengan pupuk sesuai dengan dosis, aduk hingga homogen. Campuran tersebut dimasukkan ke gundukan tanah pada tempat pencampur, aduk hingga homogen. Masukkan kembali tanah kedalam polybag. Siram merata hingga tanah basah, penyiraman selanjutnya dilakukan setiap hari. Tanam stek/pols ditengah-tengah tanah dalam polybag. Letakkan polybag pada tempat yang telah disediakan. Pertumbuhan tanaman diamati setiap minggu. Setelah dua minggu, dimulai perlakuan kering dan genangan.

4.     Intensitas Cahaya
            Label terlebih dahulu diisi dengan keterangan yang terdiri dari: kelompok, departemen, dan perlakuan. Mulut polybag dilipat keluar  ± 3 cm, masukkan tanah yang telah tersedia sampai batas bawah lipatan polybag. Keluarkan kembali tanah diatas tempat pencampur. Ambil sedikit tanah dan campur dengan pupuk sesuai dengan dosis, aduk hingga homogen. Campuran tersebut dimasukkan ke gundukan tanah pada tempat pencampur, aduk hingga homogen. Masukkan kembali tanah kedalam polybag. Siram merata hingga tanah basah, penyiraman selanjutnya dilakukan setiap hari. Tanam stek/pols ditengah-tengah tanah dalam polybag. Letakkan polybag pada tempat yang telah disediakan. Pertumbuhan tanaman diamati setiap minggu.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN



1.     Tekstur Tanah
Tabel 1.1 Data Pertumbuhan
Pengamatan ke- (tanggal)
Perlakuan
Tinggi vertikal1
(cm)
Jumlah daun1
Warna daun1
Gulma1
24 September 2014
Pasir
33,5
11
+++
34
Liat
32,5
10
++
8
Remah
28
4
+
24
1
Oktober 2014
Pasir
67
14
++
-
Liat
60
13
++
3
Remah
53
11
+++
4
8
Oktober 2014
Pasir
77
18
+++
5
Liat
67
14
+++
2
Remah
95
16
+++
1
15
Oktober 2014
Pasir
89
19
+++
7
Liat
71
13
+++
3
Remah
115
19
+++
4
5
November 2014
Pasir
165,5
17
++
-
Liat
105
16
++
1
Remah
164
19
++
7
12
November 2014
Pasir
191,5
15
++
-
Liat
124
14
++
-
Remah
183,5
20
++
-
19
November 2014
Pasir
215
15
++
-
Liat
145
14
+++
1
Remah
207
18
+++
3

Tabel 1.2 Data Produksi
Parameter produksi
Berat
Presentase
P
L
R
P
L
R
Daun

142,4
42,4
142,2
5,02
33,38
66,44
Batang muda
Sisa batang

194,8
84,6
71,8
94,98
66,61
41,07
Akar
Total
205,1
127
214
100
99,99
99,99


Grafik 1.1 pengaruh tekstur tanah terhadap pertumbuhan rumput


Diagram1.1 jumlah daun











Diagram1.3 pengaruh tekstur tanah terhadap berat produksi
Tekstur tanah
            Pengaruh perbedaan tekstur tanah terhadap tingkat produksi rumput gajah dapat dilihat pada grafik 1.1. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa pada tanah pasir dan remah mempunyai tingkat pertumbuhan yang lebih baik, hal ini berbanding lurus dengan tingkat produksi yang dapat dilihat pada diagram 1.3. hal ini dikarenakan tanah yang berstruktur remah pada umumnya mempunyai perbandingan yang relatif seimbang antara bahan padat dan ruang pori-pori pada tanahnya (Kartasapoetra,1989). Grafik 1.1 menunjukkan data pertumbuhan rumput gajah tiap minggu, diagram 1.2 menunjukkan data jumlah daun perminggu, dan diagram 1.3 menunjukkan jumlah produksi rumput gajah. Pada grafik 1.1 terlihat adanya penurunan pertumbuhan pada waktu tertentu, hal tersebut disebabkan oleh kurangnya penyiraman setiap minggunya. Dalam proses penyiraman ada beberapa kelompok yang tidak menyiram tanaman sesuai dengan jadwal penyiraman masing-masing kelompok.
            Tabel 1.3 menunjukkan data produksi rumput gajah. Produksi terbanyak yaitu pada tanah pasir dan remah hal ini dikarenakan tanah remah sangat kaya akan bahan organik serta ditambah dengan pemupukan dan biasanya tanah remah memiliki pH antara 5,5 hingga 7,0. Tanah berpasir pembesaran akar lebih cepat dibandigkan dengan tanah liat.   

2.     Kesuburan Tanah
Tabel 2.1 Data Pertumbuhan
Pengamatan ke- (tanggal)
Perlakuan
Tinggi vertikal1
Jumlah daun1
Warna daun1
Gulma1
01
September 2014
P0
62,5
8
+
1
P1
56
11
+
2
P2
48,5
21
++
2
P3
61
7
+++
6
08
Oktober  2014
P0
76
12
++
3
P1
62
15
+
2
P2
62
26
++
1
P3
80
13
+++
2
15
Oktober 2014
P0
78,5
13
+++
1
P1
66,5
18
+++
7
P2
77,5
34
+++
1
P3
81,5
18
+++
1
05
November 2014

P0
81
21
+++
1
P1
91
28
+++
1
P2
99
71
+++
-
P3
106
70
+++
1
12
November 2014
P0
69
19
+++
-
P1
103
25
+++
2
P2
108
77
+++
-
P3
112
83
+++
-
19
November 2014
P0
70
22
+++
-
P1
118
33
+++
1
P2
112
80
+++
-
P3
114
80
+++
-
26
November 2014
P0
75
24
+++
3
P1
122
33
+++
1
P2
117
81
+++
-
P3
115
84
+++
5


Tabel 2.2 Data Produksi
Parameter produksi
Berat (gram)
Presentase (%)
P0
P1
P2
P3
P0
P1
P2
P3
Edibel
35,0
100,4
212,0
239,4
40,98
54,68
54,78
63,16
Non edibel
50,4
83,2
175
139,6
59,01
45,31
45,22
36,83
Jumlah
85,4
183,6
387
379
99,99
99,99
100
99,99










Grafik2.1  pengaruh kesuburan tanah terhadap pertumbuhan rumput

Diagram 2.2 jumlah daun






Diagram 2.3 pengaruh kesuburan tanah terhadap berat produksi
Kesuburan tanah
            Kesuburan tanah sangat menentukan tingkat pertumbuhan dan produksi tanaman. Untuk menambah kesuburan agar lebih baik maka perlu melakukan pemupukan terhadap tanah tersebut. Pupuk yang digunakan dalam praktikum ini meliputi, pupuk kandang, SP36, urea, dan KCl. Pemupukan harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman akan hara.
            Dari grafik 2.1 terlihat bahwa pada perlakuan P1, P2, dan P3 mengalami pertumbuhan yang baik. Tetapi pada perlakuan P0 mengalami pertumbuhan yang lambat, hal ini dikarenakan pada perlakuan P0 hanyalah sebagai indikator yang tidak diberi pupuk. Sedangkan pada perlakuan P1, P2, dan P3 mengalami pertumbuhan yang sangat baik karena ketiga perlakuan terseut diberi pupuk, baik pupuk organik (pupuk kandang) maupun pupuk kimiawi (SP36, Urea, dan KCl). Pada diagram 2.3 juga menunjukkan tingkat produksi pada perlakuan P1, P2, dan P3 yang sangat tinggi dan pada perlakuan P0 (tanpa pupuk) menunjukkan tingkat produksi yang sangat sedikit.
3.     Ketersediaan Air
Tabel 1.1 Data Pertumbuhan
Pengamatan ke- (tanggal)
Perlakuan
Tinggi vertikal1
Jumlah daun1
Warna daun1
Gulma1
08
Oktober 2014
Kering
41
43
++
14
Lapang
21
33
++
3
Genang
30
50
++
3
15
Oktober 2014
Kering
63,5
62
++
-
Lapang
37,5
61
++
-
Genang
38,5
88
++
-
05
November 2014 
Kering
88
232
++
-
Lapang
69
235
++
5
Genang
111
243
+++
1
12
November 2014
Kering
92,5
210
+++
-
Lapang
122,5
369
+++
-
Genang
111
291
+++
-
19
November
2014
Kering
99,5
120
+++
-
Lapang
139,5
374
+++
-
Genang
114
299
+++
-
26
November 2014
Kering
114
125
+++
-
Lapang
163
380
+++
-
Genang
123
300
+++
-
03
Desember 2014
Kering
117
95
+++
-
Lapang
165
275
+++
-
Genang
129
330
+++
-


Tabel 1.2 Data Produksi
Parameter produksi
Berat
Presentase
Kering
Genang
Lapang
Kering
Genang 
Lapang
Edibel
77,0
198,4
171,8
44,92
66,62
90,42
Non-edibel
94,4
99,4
18,2
55,07
33,37
9,56
Jumlah
171,4
297,8
190
99,99
99,99
99,98


Grafik 3.1 pengaruh ketersediaan air terhadap pertumbuhan rumput



Diagram 3.2 jumlah daun


Diagram 3.3 pengaruh ketersediaan air terhadap berat produksi
Ketersediaan air
            Air berfungsi sebagai pelarut unsur hara yang ada didalam tanah agar mudah diserap oleh akar tanaman. Air juga sangat mempengaruhi tingkat produksi tanaman. Ketersediaan air diantaranya berasal dari curah hujan dan penyiraman. Kebutuhan air berbeda-beda pada setiap fase pertumbuhan. Akibat kekurangan air pada setiap fase pertumbuhan menyebabkan gangguan tertentu pada tanaman. Air yang melebihi kapasitas lapang akan menyebabkan aerasi yang buruk sehingga akan menyebabkan tanah kekurangan oksigen dan akan berdampak buruk bagi tanaman karena tanaman dan bakteri penambat nitrogen sangat membutuhkan oksigen.
            Berdasarkan data pertumbuhan pada grafik 3.1 terlihat bahwa pada perlakuan kapasitas lapang menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan kering dan genangan. Hal ini dikarenakan pada perlakuan kapasitas lapang antara air dan oksigen seimbang sehingga tanaman tumbuh dengan cepat. Disamping itu, pada perlakuan kering, tanaman tidak tumbuh dengan cepat dan baik karena pada tanah kering ketersediaan air pun tidak mencukupi kebutuhan tanaman sehingga unsur hara sukar larut dan diserap oleh tanaman, begitu juga dengan perlakuan genangan pertumbuhan kurang baik, hal tersebut disebabkan oleh banyaknya air pada polybag sehingga tanah pada perlakuan ini kekurangan oksigen yang akan menyebabkan tanaman dan bakteri penambat nitrogen kekurangan oksigen.
            Dari diagram 3.3 menunjukkan data yang berbanding terbalik dengan data pertumbuhan. Rumput pada perlakuan genagan memiliki produksi paling tinggi karena pada perlakuan tersebut banyak pemberian pupuk terutama pupuk urea. Karena pupuk urea sangat mudah larut.


4.     Intensitas Cahaya
Tabel 1.1 Data Pertumbuhan
Pengamatan ke- (tanggal)
Perlakuan
Tinggi vertikal1
Jumlah daun1
Warna daun1
Gulma1
15 Oktober 2014

50%
33
8
+
8
100%
23
8
+
2
05 November 2014
50%
106
15
+++
4
100%
72
13
++
-
12
November 2014
50%
124
16
+++
2
100%
83
13
++
1
19
November 2014
50%
144
18
+++
-
100%
95
16
+++
-
26
November 2014
50%
152
19
+++
-
100%
105
20
+++
-
03 Desember 2014 
50%
150
19
+++
-
100%
130
16
+++
-








Tabel 1.2 Data Produksi
Parameter produksi
Berat
Presentase

50%
100%
50%
100%

Edibel
175,4
122
94,50
65,73
Non-edibel
58,6
63,6
25,04
34,27
Jumlah
234
185,6
100
100


Grafik 4.1 pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan rumput



















Diagram 4.2 jumlah daun

Diagram 4.3 pengaruh intensitas cahaya terhadap berat produksi


Intensitas cahaya
            Besarn kecilnya intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman menentukan kemampuan tanaman untuk berfotosintesis. Intensitas cahaya adalah jumlah  energi radiasi yang dipancarkan sebagai cahaya kesuatu arah tertentu selain itu intensitas cahaya juga merupakan jumlah cahaya yang diterima oleh bumi bergantung pada kualitas dan lama periode penyinaran (Porcell dan Bishop, 1975 dalam kusharsoyo, 2001).
            Berdasarkan tabel 4.1, pertumbuhan jagung (zea mays) pada intensitas cahaya 50% lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan dengan pada intensitas cahaya 100%. Hal ini diakibatkan oleh pada perlakuan 100% intensitas cahaya yang diserap terlalu banyak dan pada tanah yang sebagai pondasi atau tempat tumbuhnya juga kekurangan air akibat penyiraman yang tidak efektif oleh setiap kelompok. Dalam eksperimen yang dilakukan oleh Boysen-Jensen (1910) menyimpulkan bahwa bahan kimia yang dihasilkan dari bagian ujung daerah perpanjangan akan turun apabila terkena cahaya matahari dan berpindah ke sisi yang tidak terkena matahari. Pada diagram 4.3, juga menunjukkan bahwa produksi jagung pada perlakuan 50% lebih tinggi.









































BAB V
KESIMPULAN



Produktivitas hijauan pakan sangat bergantung pada tekstur tanah, kesuburan tanah, intensitas cahaya dan ketersediaan air. Tekstur tanah yang paling optimal untuk pertumbuhan rumput adalah tanah yang bertekstur remah. Pertumbuhan dan fotosintesis jagung sangat baik pada intensitas 50%. Pemberian pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk kimiawi (urea, SP36 dan KCl) dengan cara dikombinasi dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara didalam tanah.  Ketersediaan air berperan penting terhadap pertumbuhan tanaman diantaranya agar tanaman tidak layu (kekurangan air) hingga mencapai tingkat produktivitasnya.


































BAB VI
DAFTAR PUSTAKA


Jumin, H. B. 1992. Ekologi Tanaman sebagai Pendekatan Fisiologis. Rajawali Press.
Kartasapoetra, A. G., 1989. Kerusakan Tanah Pertanian dan Usaha untuk Merehabilitasinya. Bina Aksara. Jakarta
Kusharsoyo, A.P. 2001. Pengaruh Pupuk NPK, Asam Humat dan Frekuensi Pemanenan terhadap Produktivitas dan Rendemen Handeuleum pada Intensitas cahaya matahari yang berbeda. Skripsi. Manajemen Hutan. FakultasKehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Setiadi. 1986. Bertanam Durian. Penebar Swadaya. Jakarta.




























LAMPIRAN


1.     Tekstur tanah

% Edibel =  
    = 
% Non-Edibel =
            =
Total  = edibel + non-edibel
 = 58,92 + 86,38
 = 145,3
2.     Kesuburan tanah
% Edibel =  
                =
% Non-Edibel =
                        =
Total   = edibel + non-edibel
             = 40,98 + 59,01
             = 99,99
3.     Ketersediaan air
% Edibel =  
                =
% Non-Edibel =
                        =
Total   = edibel + non-edibel
            = 44,92 + 55,07
            = 99,99
4.     Intensitas cahaya
% Edibel =  
                =
% Non-Edibel =
                        =
Total   = edibel + non-edibel
            = 74,96 + 25,04
            = 100